Apakah manusia perlu kebahagiaan?

 Halo saya Danendra, dan disini saya  ingin membagikan cerita mengenai Abu Nawas & Kebahagiaan.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang memiliki berbagai emosi, salah satunya adalah bahagia. Namun apakah manusia itu sendiri memerlukan kebahagiaan? Iya, manusia sangat membutuhkan kebahagiaan hal tersebut dapat menjadi motivasi tersendiri dan dapat memberikan efek yang sehat bagi tubuh, namun ada juga yang berpendapat bahwa tubuh yang sehat dapat memberikan kebahagiaan.

Oleh karena itu, disini saya akan menceritakan tentang Abu Nawas & Kebahagiaan.

Sebelum itu bagi yang tidak mengetahui Abu Nawas itu siapa, beliau adalah seorang pujangga Arab yang terkenal karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor.

Abu Nawas & Kebahagiaan

    Disuatu hari yang indah, Abu Nawas menikmati secangkir kopinya di sore hari yang indah (anggap saja begitu) kemudian ia didatangi oleh temannya anggap saja nama ia Robby, Mengapa ia mendatangi Abu Nawas? karena pada zaman tersebut Abu Nawas dapat dibilang sebagai orang yang sering menasihati seseorang, dia sering memberi masukan masukan finansial, literasi keuangannya bagus dan lainnya. Intinya dia adalah orang yang di dengarkan sebagai teman curhat. Datanglah Robby ke Abu Nawas

"Hey Abu, aku ini lagi pusing."

"Hah pusing? Minum paramex sok."

"Bukan Bu, maksudnya pusing finansial."

"Hah kenapa tuh?"

"Jadi gini, gua merasa kalau hidup gua ini ga bahagia."

"Dikarenakan rumah gua kecil gitu gaji gua juga ga seberapa, sedangkan gua pengennya tuh rumah seluas istana."

"Karena rumah kecil ini sempit banget Abu Ya Allah, masuk pintu aja udah ketemu ama dapur"

"Hm, begitu ya. Kalau gitu lu beli aja rumah seluas istana Rob."

"Duitnya darimana Abu? Gamampu gua."

"Oh, kalau beli kambing mampu ga?"

"Mampu dong, 10 kambing juga gua beliin."

"Kalo gitu lu beli kambing sekarang."

"Sekarang banget?"

"Iya."

"Abis gua beli gua apain? Gua jual lagi dengan harga yang tinggi atau apa?"

"Abis itu lu masukin kambingnya kedalem rumah lu abis itu datang lagi kesini 3 hari setelahnya."

Robby pun kebingungan, awalnya ia mau menentang Abu Nawas tapi di suatu sisi ia berfikir

"Seorang Raja saja mendengarkan perkataan Abu Nawas apalagi gua seorang menengah kebawah, yaudahlah gua ikutin aja perkataanya."

Pada Akhirnya ia pun membeli 1 kambing, ia masukan kambing tersebut kedalam rumahnya. Tiga hari kemudian ia datang kepada Abu Nawas.

"Abu, gua udah ikutin kata lu, tapi kok rumah gua malah makin sumpek dan sempit Bu bau lagi tuh kambing."

"Tenang tenang semua ada prosesnya, udah beli 1 kambing?"

"Udah."

"Sekarang beli 1 lagi."

"Lah, gila lu 1 kambing aja udah bikin sumpek masa gua beli 1 lagi Bu?"

"Ada duit ga?"

"Ya, kalau duit mah punya."

"Ahhh, jangan bilang gapunya duit..."

"Punya kok."

"Ya kalo punya beli dong."

Pada akhirnya, Robby pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Abu Nawas.

"Ini dimasukin kerumah juga nih?"

"Ya iya dong."

Setelah itu Robby pun memasukan kambing yang baru ia beli itu kedalam rumahnya. 3 hari kemudian ia kembali kepada Abu Nawas ingin komplain.

"Ini rumah gua makin sesak gaada langkah buat jalan makin bau udah gua bersiin tetep aja nyengat baunya, untuk apa sih kambing-kambing ini gua masukan kedalam rumah?"


"Setelah dua kambing ini yang terakhir, lu beli satu kambing lagi dan masukin kedalam rumah lu."

Akhirnya ia pun menuruti apa yang dikatakan Abu Nawas, Robby udah pasrah.

"Yaudahlah."

Robby pun sudah tidak tahan, akhirnya ia mendatangi Abu Nawas lagi bawa golok.

"Wah lu ngerjain gua lu Abu, berantem lah kita."

"Lu jangan marah dulu."

"Ya gimana ga marah, gua bilang rumah gua udah sempit, malah lu suruh gua buat masukin tiga kambing."

"Makin gila lah gua, makin mental illness nih gua."

"Yaudah lu jual satu kambing, nanti tiga hari lagi lu datang lagi kesini."

Robby jual lah satu kambing tersebut, kemudian datang lagi ke Abu Nawas 3 hari setelahnya.

"Alhamdulillah Bu, sekarang rumah saya jadi lumayan lega, yang ada cuman dua kambing."

"Gimana perasaannya Rob? Apakah lebih bahagia?"

"Ya lebih santai lah ya, dulu ada tiga kambing sekarang satu kambingnya udah pergi tapi masih sumpek."

"Oh kalau masih sumpek jual lagi satu kambing tiga hari kemudian lu dateng lagi kesini"

Akhirnya ia jual lagi tuh satu kambing, kemudian ia mendatangi Abu Nawas lagi.

"Gimana Rob?"

"Entah mengapa sekarang menjadi lebih lega, tinggal satu kambing ini aja nih yang kadang suka nyeruduk-nyeruduk."

"Oh kalau gitu lu jual aja kambingnya."

"Udah boleh dijual?"

"Jual aja sekarang, nanti lo balik lagi dalam 3 hari"

Dijual lah si kambing terakhir ini sama Robby.

"Ya Allah Abu Nawas, gua merasa sangat lega, gua merasa sangat bahagia, gua merasa sangat sangat bernafas!"

"Gua merasa sekarang rumah gua sangat luas dan sangat nyaman untuk di tinggali."

"Setelah ketiga kambing itu hilang, gua merasa merdeka."

Abu Nawas pun tersenyum sambil menyantap rokoknya. (Meski gaada rokok zaman dulu, anggap saja begitu.) Dan begitu lah ceritanya selesai.

Saya mendengar cerita ini ketika saya masih sombong-sombongnya, saya merasa kalau saya harus menjadi orang sukses, ingin di bangga-banggakan oleh orang tua, ingin menjadi populer. Namun pada suatu saat saya menyadari bahwa gua melakukan ini semua untuk apa?, saya pun menyadari kalau tidak semua hal yang saya inginkan dapat digapai, dan tidak semua hal dapat berjalan seperti yang saya inginkan. Dalam posisi itu saya masih sering menyalahkan orang lain dan jarang menyadari kesalahan yang saya lakukan, dan gua merasa selalu iri ketika ada orang yang mencapai suatu pencapaian "Ya wajarlah, dia kan orang nya bla bla bla." dan sekarang Alhamdulillah saya menjadi lebih santai. Dan menurut saya hal-hal seperti pencapaian, prestasi, keberhasilan dan kesuksesan itu dapat mendatangkan kebahagiaan. Namun saya pun sadar kalau kebahagiaan tidak hanya datang dari situ dan untuk mencapai kebahagiaan itu ada banyak pintu. Disitu pun saya mulai mengakui diri saya kalau saya itu tidak begitu pintar, saya menganggap kalau diri saya itu tidak dapat melakukan sesuatu dan berlajan sesuai yang diinginkan, dan gua bakal terus belajar untuk itu. Dan hebatnya, hidup gua jadi lebih baik dari sebelumnya, saya jadi lebih menikmati hidup saya sekecil apapun yang ada dalam hidup saya, yang dulu ga bisa bikin saya bahagia namun sekarang dapat membuat saya sangat senang, misalnya saya masih bisa makan hari ini saja sudah dapat membuat bahagia. Jadi kebahagiaan itu bukan soal apa yang lu lakukan, apa yang lu capai, apa yang telah lu berikan tapi kebahagiaan itu tentang apa yang lu rasakan, bahagia ada di dalam dirimu sendiri di perasaan mu sendiri dan bagaimana kamu menjalani hidup demi menggapai kebahagiaan tersebut. 

Sekian dari saya, disini saya hanya membagikan cerita mengenai Abu Nawas & Kebahagiaan jika cerita ini dapat memberikan manfaat ya Alhamdullilah jika tidak ya sudah.

"Kunci kebahagiaan itu cuman satu, tidak melihat kenikmatan orang lain." - KH. Bahauddin Nursalim

"Bahagia itu mudah, penafsirannya yang sulit." -Ferry Irwandi

Menurut saya bahagia itu ada didalam dirimu sendiri, itu semua tergantung bagaimana caramu mendapatkannya.

Dan untuk menyelesaikan pertanyaan yang dituju "Apakah manusia perlu kebahagiaan?" Iya, kita semua tentunya membutuhkan kebahagiaan "Mengapa?" jawabannya ada di dalam dirimu sendiri, apakah kamu merasa bahwa kamu membutuhkan kebahagiaan itu sendiri?





Komentar

Postingan Populer